Unit Lokal Dan Impor Dalam Kejuaraan Menembak Benchrest Indonesia

Lagi rame lokal versus import ya? Kenapa yang import keteteran lawan lokal akhir-akhir ini? Ya jelas karena import tidak dirancang untuk penembak lokal, termasuk antisipasi lingkungan pertandingan lokal dan pola berpikir penembak lokal. Sedangkan senapan lokal ya karena dirancang dan diciptakan oleh orang lokal yang tahu persis kebutuhan penembak lokal, contoh ruang 2nd chamber, atau sering disebut ruang ledak, ada yang bilang senapan nggak cuma gede-gedean ruang ledak. Ya benar, tapi coba yang bilang pakai produk yang desain ruangnya nggak sama Borneo, ups maaf nyebut merk, buat lah desain sendiri, ukuran sendiri, nah tinggal di buktikan, ruang 2nd Chamber atau ruang ledak jadi penting di senapan lokal karena memang kebutuhan

Aalasannya kaliber legal di Indonesia ya 4,5mm atau .177 inch, lebih dari itu kasus dong, kalau di luar bebas, kaliber ini punya kendala untuk menghasilkan akurasi yang baik terutama di outdoor. Mau tanya kira-kira yang merancang senapan lokal hitung sampai hal ini nggak ya? Kalau kita iya hal ini masuk dalam perhitungan, makanya desain nya ya seperti itu, dan ternyata betul buktinya hasilnya menjanjikan, jadi sebelum sampai Laras, angin ada proses. Tahu sendiri kan rerata lomba dilakukan outdoor yang anginnya bikin pusing, artinya penembak lokal harus cari cara atasi angin, ya pakai pelet yang lebih berat 13 grain bahkan 16 grain, masih bilang 2nd Chamber besar tidak penting?

Jadi akurasi tidak hanya cuma bicara setting, tapi bahan dan desain awal mendukung tidak untuk di setting, sehingga menghasilkan perkenaan yang baik. Soalnya sekarang yg terjadi dalam lomba open kan secara realita setiap unit beserta joki nya tidak selalu memiliki kesempatan yang sama dalam perform, taruhlah senapan A sudah custom abis dan jokinya di suatu lomba open di tengah lapangan yang berangin berani beli tiket sampai 1,5jt sedangkan senapan B import standar beserta joki nya hanya membeli tiket sekitar 500rb saja, maka kesempatan pencarian skor terbaik lebih tinggi yang A kan ?


Kalau yang di lihat saat ini para juara di lomba mungkin rata2 karena menang di pembelian tiket yang banyak = mendapat kesempatan percobaan yg lebih banyak juga, sehingga memiliki peluang yang lebih banyak juga menjadi juara, WALAPUN tidak semua seperti itu,
Contoh kontra nya adalah saat PON atau asean, kenapa memakai senapan luar,??

1.  Karena memang saat di train dengan kesempatan yang sama jumlah percobaan nya / mungkin dinamai prestasi, rata2 hasilnya lebih konsisten yg import tanpa perlu modif sana sini atau modif extreme

2.  Karena regulasi dari bobot, mekanisme senapan, lokal jarang ada yang masuk regulasi nya, bukan karena tidak mampu, tapi memang maker lokal belum ingin terjun ke bidang ARM 10m

Dan mohon maaf kritikan, senapan yg di sebut di atas jika saya lihat adalah borneo, borneo yg sering di pakai juara itu apakah murni lokal? laras lokal ? jika lokal tapi sudah di custom sana sini sampai uang puluhan juta juga gak cuma borneo yg mampu, senapan lokal merk lain pun banyak yang mampu, (apalagi berani beli tiket ampe 3 juta) kecuali lokal bener2 fress keluar dari dapur maker nya langsung di train dengan lokal lain dan dengan import dan tentunya dengan jumlah kesempatan menembak yang sama.  Nanti kelihatan mana yang bener2 teori berjalan di lapangan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *